Home » » Cerita pegawai KPP Batulicin diancam dikebiri hingga dibunuh

Cerita pegawai KPP Batulicin diancam dikebiri hingga dibunuh

Written By admin on Jumat, 30 Agustus 2013 | 08.09


LIBASS - Punya mental yang kuat, sepertinya merupakan syarat sebagai pegawai di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Batulicin. Bagaimana tidak, berbagai ancaman diterima para pegawai di pedalaman wilayah Indonesia ini.

Ancaman mulai dikebiri, dibakar, dan dibunuh sudah sering diterima sejumlah pegawai KPP Pratama Batulicin ini.

"Bagi kita ancaman itu kayak makan biasa saja, karena saking seringnya. Ancaman bilang dibunuh dibakar, itu sudah biasa.

Ancaman yang paling agak mikir juga, kalau macam-macam dikebiri," kata Kepala KPP Pratama Batulicin, Achmad Noor Wakhid.

Namun semua ancaman itu perlahan-lahan hilang. Mulai tahun 2012, intensitas ancaman yang diterima para pegawai mulai berkurang. Wakhid dan sejumlah pegawai berusaha 'mengelola' ancaman-ancaman tersebut dengan pendekatan yang baik.

Jika tidak bisa mendekati oknum yang mengancam itu dengan baik, maka Wakhid berusaha mencoba mendekatinya dengan bantuan mediator.

"Makin kesini relatif makin nggak ada. Pengelolaannya biasanya kalau kita diancam wajib pajak tertentu, kalau kita nggak bisa nangani pendekatan yang baik, kita minta bantuan tokoh lainnya yang memiliki silaturahmi yang bagus. Misalnya Kejaksaan Negeri, Polres. Dan hubungan kita bagus," ujarnya.

Wakhid berusaha berpikir positif dalam menghadapi wajib pajak. Begitu juga dalam menghadapi wajib pajak yang hendak mencoba-coba 'nakal'. Wakhid berusaha menjelaskan kepada para wajib pajak kalau segala biaya pajak yang mereka bayar ke pemerintah semuanya ada manfaatnya. Mulai untuk subsidi BBM, pembangunan jembatan di daerahnya, dan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia lainnya.

"Bahwa dengan membayar pajak bermanfaat untuk umat. Ada hadistnya. 

Sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Yang bayar pajak merasa bermanfaat dan menurut hadist dia adalah orang yang mulia. Alhamdulillah beberapa kali melakukan penggalian potensi pendekatan seperti itu lumayan berhasil," jelasnya.

Wakhid juga mengajak seluruh karyawan berbuat baik selama nyawa masih di kandung badan. Wakhid mengajak para karyawan beribadah bersama-sama mulai dari salat berjamaah, puasa Senin dan Kamis, dan tadarus bersama. Semua itu dilakukan Wakhid untuk sama-sama menjaga mental para pegawai pajak dalam menghadapi berbagai persoalan wajib pajak.

Di sini shalat jamaah karena tinggal dekat semua. Jamaah shalat lima waktu diikuti para pegawai. Disini ada pembinaan mental puasa Senin-Kamis bareng-bareng. 

Senin-Kamis kita ada buka puasa. Setiap Kamis panggil ustad belajar agama. 

Karyawan bergiliran membaca kitab, hadist shahih Al Buchory-Muslim. Setelah shalat Ashar membaca hadist Riyadus Sholihin.

Sebagai bimbingan mental," ungkapnya.

Karena seringnya melaksanakan ibadah secara bersama-sama, Ukhuwah Islamiyah di antara sesama pegawai pun terasa kental sekali. Setiap kegiatan selalu dimulai dengan doa. Mulai berolahraga, sebelum rapat dimulai, bahkan jika ada rekan yang sakit, seluruh karyawan ikut mendoakan kesembuhan rekan tersebut.

"Di ruang rapat sering kita doa bersama minta ampunan sama Allah. Habis doa bersama mendoakan teman-teman yang sakit. Habis itu kita saling memaafkan apabila minggu ini ada yang salah, diikhlaskan. Masuk ke ruangan rapat. Apa saja bisa dibicarakan baik dari fasilitas dan pelayanan," imbuhnya.

Kebersamaan para pegawai juga dipupuk dengan dilaksanakannya rapat karyawan tiap hari Jumat. Di sini, seluruh karyawan bisa mengeluarkan segala uneg-unegnya dan berbagai ide untuk kemajuan Ditjen Pajak khususnya KPP Pratama Batulicin.

"Kepala kantor atau seksi salah, karyawan lain boleh menegur. Nggak boleh sakit hati, di situ selesai semua. Kalau paguyuban sudah lama, hanya ide program-program kegiatannya munculnya di hati," tandasnya.

Dengan menjalankan hal itu, Wakhid berharap bisa menjalankan pekerjaan ini dengan hati yang bersih pula. Karena pekerjaan yang sudah dijalankan ia dan seluruh karyawan di KPP Pratama Batulicin adalah amanat yang diberikan negara.

Karena itulah, Wakhid mengimbau masyarakat tidak menyamakan semua oknum Ditjen Pajak yang melakukan penyelewengan dengan seluruh pegawai pajak lainnya. Sebab masih banyak karyawan pajak lain yang menjalankan kode etik pekerjaannya dengan benar.

"Harusnya lihat ada yang bersih. Saya yakin di Indonesia pegawai pajak banyak yang baik. Kami mengimbau kepada masyarakat jangan menyamakan oknum yang tertangkap dengan kami yang sudah melakukan sesuai dengan kode etik. Untuk teman-teman berbanggalah karena kita kerja di Ditjen Pajak adalah orang-orang pilihan. Orang yang paling mulia adalah yang bermanfaat bagi orang lain," ucapnya. (*)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. LIBASS Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger