Home » » Hari Kemenangan, Beragama dan tidak korupsi

Hari Kemenangan, Beragama dan tidak korupsi

Written By admin on Senin, 02 September 2013 | 22.27


      Suatu ketika saya hendak Sholat Idul Fitri, saya diberondong pertanyaan beruntun.
Kang?,” kata sang penanya, "misalnya ada waktu bersamaan tiba-tiba akang menghadapi tiga pilihan yang harus dipilih salah satu, pergi ke masjid untuk shalat IED, mengantar pacar belanja di Mall, atau mengantar tukang ojek miskin ke rumah sakit akibat ditabrak lari, mana yang akang pilih?,” Tanya ia.
Saya menjawab lantang, "Ya nolong tukang ojek yang kecelakaan. Tapi akang berdosa karena tidak sembahyang !, kejar si penanya.
"Ah, masa Tuha egois,” jawab saya.
"Kalau saya memilih shalat IED, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" , kata saya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi".
Menurut saya, apabila kita menjumpai orang yang pada saat itu harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.
Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang, Kata Tuhan:
·         kalau engkau menolong orang sakit, akulah yang sakit itu.
·         Kalau engkau menegur orang yang kesepian, akulah yang kesepian itu.
·         Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Saya berujar, "Kira-kira Tuhan suka, denganorang-orang ini:
·         Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
·         Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
·         Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”
 Kalau saya, ucapku, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.
Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan.
Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya, standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolak ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya.
kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.
Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih,dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura dan wihara, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang yang bukan hak nya, menyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan kehidupan sosialnya.
Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).  Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. Keberagamaan Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". 

Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik dihadapan orang lain.
Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan membagi dua macam cara beragama: kemunafikan dan keimainan.
·         Yang pertama, “kemunafikan”,  memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri.Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
·         Yang kedua, “Keimanan”, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Sang Pencipta.
       Keberagamaan yang dilandasi “keimanan”, Adalah cara beragama yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang. Dan mampu menciptakan kebahagiaan dalam dirinya, lingkungan sosialnya, serta ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual keagamaan tersebut.
Keberagamaan yang dilandasi “kemunafikan”, Adalah cara beragama yang melahirkan sifat egois, tidak tulus,serta menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Dan sikap beragama ini memunculkan sikap hipokrit.
Syaikh Al Ghazalidan Sayid Qutuhb pernah berkata, ”Kita ribut tentangBid’ah dalam Shalat dan Haji, tetapi dengantenang melakukan Bid’ah dalam urusan ekonomidan politik”. Dan sifat egoisme, bertanggungjawab atas kegagalan manusia menuju kebahagiaan, Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri, Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Kita beragama tetapi dengan tenang melakukan korupsi, pembunuhan, kekerasan, pemerkosaan, pencurian, dan penindasan. Indonesia, sebuah negeri yang katanya Agamis, tetapi pada kenyataannya,  merupakan negara yangpenuh pertikaian dan pemerkosaan hak-hak.
       Betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah “mahdhah” (ritual), apalagi dihari  yang Fitri dan penuh kemenangan ini. Tetapi masih banyak yang mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.
Betapa banyak dinegri tercinta ini orang kaya,  yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah,sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
       kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara Kenegaraan dan keagamaan, di saat jutaan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah.
Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat jutaan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi.
       Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat jutaan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. (RML)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. LIBASS Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger