![]() |
| Dahlan Iaskan |
“Tender itu Oktober, kontrak November untuk anggaran tahun berjalan. Intinya tidak boleh ada BUMN yang ikut tender yang dilakukan akhir tahun dan mustahil bisa menyelesaikan sistemnya. Harus dicurigai,” kata Dahlan di Gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (3/10).
Kebijakan ini diambil Dahlan dari pengalaman Surveyor Indonesia yang mengambil proyek kementerian pendidikan di akhir tahun. Proyek survei sekolah akhirnya sekarang bermasalah hingga memaksa Dahlan mengancam akan mencopot direktur utama Surveyor Indonesia Fahmi Sadiq jika terlibat kasus survei fiktif akhir tahun tersebut.
“Tadi kita bahas mengapa SI (Surveyor Indonesia) mau mendapat kontrak waktu menyelesaikan pekerjaan seluruh Indonesia dalam satu bulan. Waktu pelaksanaan satu bulan dan akhir tahun harus dicurigai,” tegasnya.
Dahlan tidak menampik jika tender dan proyek di akhir tahun bisa saja mempunyai tujuan untuk menghabiskan anggaran. Waktu tender yang paling baik adalah di akhir tahun namun kontraknya di awal tahun untuk proyek anggaran tahun yang akan datang.
“Tidak masuk akal saja. Saya tidak persoalkan mepetnya, saya persoalkan BUMN nya. Kok mau ikut tender waktu mepetnya seperti itu,” tutupnya.

Posting Komentar